DUNIA RENDJANA

"...and if you said that happiness is real. Please bring it to me along with butterfly, rainbow and the blue blue sky ..."

Tuesday, January 31, 2006

Hhhhhh.......


Ada kalanya gue merasa sangat bosan dengan segala kalimat yang keluar dalam bentuk pertanyaan. Meski di lain waktu, justru kepala gue lah yang tenyata berisi terlalu banyak pertanyaan. Yang paling menyebalkan lagi, ketika semua pertanyaan itu tidak juga menemukan jawaban yang memuaskan. Seperti hantu di mimpi serial gue yang nggak kunjung mati dan selalu saja datang lagi dan lagi, entah dalam jeda waktu berapa lama.

Kemarin, satu kalimat tanya yang sudah menjadi ’sahabat sejati’ gue sejak beberapa tahun terakhir ini... muncul lagi. Ya, gue ketemu lagi. Nggak usah ditanya, pasti gue rasa semua sudah bisa menebak ke arah mana kalimat itu menuju. Hanya saja kali ini konteksnya jadi makin serius. Hanya saja kali ini gue sedang tidak se-PD kemarin dalam menjawabnya. Nggak tau kenapa.

Gue memang merasa jadi aneh sendiri, kenapa ketika segala masa perjuangan dan penantian gue mulai menunjukkan titik terang justru gue merasa grogi. Lebih aneh lagi, malah muncul pertanyaan-pertanyaan sejenis ”Are you REALY ready??” Hhhh..... benar-benar manusia yang aneh, diri gue ini.

Saat ini gue masih mencari waktu yang tepat untuk menjawab kalimat tanya yang tidak bisa gue jawab seorang diri tentunya. Dan semoga aja ke-grogi-an gue tidak membawa gue menjadi panik atau (lebih parah lagi) melakukan tindakan-tindakan destruktif yang pada akhirnya membuat banyak orang berteriak lantang ke gue : ”HEY ... APAKAH KAMU KACANG???” (= Hey, are you nuts?? - red)


******


- rendjana -


Thursday, January 26, 2006

(...) - empty -






floating ... flying ... breakin' inside ... uncomplete ...
keep flying ... living ... trusting ...
empty

patience
...
patience
...
patience


- rendjana -

Wednesday, January 25, 2006

tapak kaki godzilla ..... (continued)



Tuh khan! Apa gue bilang!!



23 Januari yang lalu ada berita yang cukup memilukan. Menara salah satu stasiun TV Swasta yang baru setengah berdiri tiba-tiba roboh menimpa pemukiman sekitar. 3 orang tewas. Sepasang suami istri dan 1 bocah laki-laki umur 7 tahun. Menara roboh saat hujan angin.

Baca lebih jauh berita di koran. Ternyata pembangunan menara itu belum mendapat ijin dari pemerintah. Banyak alasan, katanya permasalahan material dan konstruksi yang diajukan masih belum sesuai strandar kelayakan. Tapi alasan yang pastinya benar adalah lokasinya terlalu sempit dan terlalu dekat dengan pemukiman penduduk. Ya iya lah!!! Gimana sih?

Coba deh sesekali lo lihat menara TV dari jarak 10 meter seperti yang ada di tepi Jl. Joglo Raya dekat rumah gue. Akan berasa banget bagaimana menara itu terlihat seperti kaki-kaki Godzila dan kita seperti kutu yang siap-siap terinjak mati.

Nah, menara yang kemarin roboh itu tingginya "baru" mencapai 104 M, padahal juga belum selesai dibangun. Sebenarnya sudah pernah ada peringatan bahkan perintah bongkar paling lambat akhir Januari ini, tapi ternyata .... sayang disayang .... menara sudah keburu roboh dan meminta korban. Jadi tambah ngeri untuk ngebayangin kejadian serupa bisa saja terjadi dengan si kaki godzila di lingkungan gue (yang sudah selesai dibangun. Dan kalau menara TV Station itu dibuat sesuai "ijin" ketinggian menara dari pemerintah, berarti tingginya sekitar 300-an meter!!!)


Oiya,
Satu paragraf di berita koran yang lupa gue sampaikan. Ternyata, si kaki Godzilla juga "nakal" seperti sodaranya yang duluan tumbang. Dia belum punya ijin (IMB) dari pemerintah. Trus, kok bisa-bisanya udah selesai didirikan ya?

Lebih heran lagi ..... kayaknya otak para pemilik TV Station itu lagi jalan-jalan ke ruang angkasa. Jadinya, seperti nggak peduli bahwa menara relay-nya itu sangat membahayakan penduduk. Mungkin mereka hanya melihat pada satu sisi saja, bahwa semakin banyak menara semakin banyak pemirsa, semakin banyak keuntungan, semakin banyak karyawan yang dikasih makan.


Lalu, kalau kemudian yang terjadi malah seperti ini, bagaimana?


(Yuuk kita coba untuk selalu positive thinking. Setidaknya, sepasang suami istri dan satu bocah laki-laki yang menjadi korban kemarin .... mendapatkan fasilitas tambahan ... nonton channel TV 7 yang bisa dinikmati di alam sana...)




Duuuuhhhhhh,
Makin ngeri
makin ngeri
m a k i n n g e r i
Ngiiikkkkkkk............!!!!!



*semalam gue mimpi gigi taring gue yang sebelah kanan bawah copot. deg-degan terus niy ... semoga semua sehat selalu dan baik-baik saja*


a.m.i.e.n



- rendjana -

Tuesday, January 17, 2006

let them say it first





[prolog]

Being almost 30 and still single is really complicated. Wait, I’ve been heard this statement before, since I was 13. So, it means that being human at any ages will never been easy at all, right? OK, I will not use my “almost 30”-thing as an excuse. So what should I say?

Uuumm... Well, here it is: “Being ME who is still single is really complicated”.

And it will be more difficult when we begin to talk about “the” love-life thing. Uugghhh…. so many dos and don’ts to be considered. Need a sample? Please pick your favorite…


[“Bahasa” mode - ON]

Saat ini gue punya 2 sahabat cewek yang lagi dekat banget dan jadi tempat untuk saling curhat. Satu sahabat gue, sudah gue kenal sejak gue kuliah di UGM Yogya dulu. Yang satu lagi, baru gue kenal di kampus kedua gue - UMB Jakarta. Kedua sahabat gue ini asik banget diajak curhat apapun. Keduanya sama-sama related dengan dunia ”broadcasting”. Dan dengan keduanya gue nggak merasa perlu gengsi atau jaim-jaiman. Nggak perlu takut merasa di-judge. Yah, saling TST aja deh. Tapi jangan salah. Kita juga tau kapan dan gimana musti ”memaki-maki” sahabat saat ada salah satu dari kita yang perlu ditarik ”back-on-track”. Bahkan, terkadang ketika (misalnya) gue merasa sedang melakukan kesalahan, malah gue yang suka minta ”dimaki-maki” duluan (bener gitu khan, Bonk?).

Anyway, kita bertiga sering ketemu sama masalah hidup yang hampir sama. Nggak tau juga deh, mungkin karena kita seumuran... makanya masalahnya ya paling yang kayak gitu-gitu aja. ”Finding Mr. Right”. Klasik banget khan? Memang nggak gampang ternyata buat menyelesaikan ”tugas hidup” yang satu ini. Kita bertiga saat ini sudah sama-sama punya pasangan serius yang semoga saja bisa lulus menjadi ”Mr. Right”. Tapi lagi-lagi memang nasibnya perempuan, selalu saja jadi ribet saat harus berhadapan dengan ”tuntutan sosial” yang juga sangat klasik :”Trus, kapan merit?” HUH!!!

Disangkanya kita nggak mau cepat merit apa? Pastinya mau lah! Apalagi saat kita sudah merasa sangat nyaman, cocok dan memutuskan berkomitmen dengan seseorang. Tapi masalahnya buat perempuan nggak semudah itu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, meski mungkin di awal hubungan masing-masing sudah tau bahwa proses ini adalah bukan hanya untuk sekedar main-main. Karena, pernikahan adalah upper-stage dari kebutuhan dua orang yang sudah saling berkomitmen. Nah, untuk bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi tersebut, musti ada pembicaraan lagi ke pasangan. Masalahnya, siapa yang lebih dulu berhak atau harus memulai pembahasan tentang masalah itu? Siapa yang seharusnya lebih dulu bertanya ”Ummm, kapan ya kita merit?”

Sahabat gue yang di Jakarta itu punya referensi ”Biarin aja laki-laki yang harusnya ngajak merit duluan. Karena ...bla bla bla ...” Gue sementara hanya bisa no-comment dan nggak bisa langsung menyalahkan referensi yang dia dapat. Karena ceritanya lagi, dia punya bos yang saat ini lagi dalam proses bercerai dengan istrinya. Dari sekian alasan dan pertanyaan mengenai asal-muasal masalah, salah satunya terucap dari si bos itu ”Lagi pula dia kok yang waktu itu ngajak merit duluan”. Weeekkzzz.....!!!!!


[paused]

Satu lagi kasus sejenis. Pagi ini sempat lihat acara Dorce Show di Trans TV. Temanya tentang kawin-cerai di kalangan artis Indonesia. Salah satu bintang tamunya adalah mantan personel band ”D.O.T” (sapa tuh abangnya Eza Yayang? Umm... Adam, kalo nggak salah) Nah, kita tau dia sempat menikah dengan si perenang nasional Kevin di usia yang masih cukup muda. Akhirnya mereka bercerai dengan alasan... entah apa, gue nggak care (;p). Intinya, ketika ”bunda” Dorce mengajukan pertanyaan tentang awal-awal mereka nikah dulu .... kata-kata serupa meluncur dari mulut Adam : ”Ya, saat itu memang dia duluan sih yang ngajak nikah. Mungkin dia mau tau, apakah laki-laki yang jadi pacarnya punya rasa tanggung jawab untuk membawa hubungan ini sampai ke pernikahan”. (Ya kalo lo merasa nggak bisa memenuhi syarat itu kenapa juga dijalanin. Pegow lo ahhh!!)

Mungkin ilustrasi di atas mendukung sepenuhnya referensi dari cerita sahabat gue itu. Tapi, apa benar semua laki-laki punya pikiran seperti itu? Apa hanya karena perempuan berani menanyakan hal pernikahan terlebih dahulu lalu laki-laki jadi merasa berhak melemparkan kesalahan ke perempuan saaat hubungan mereka kebetulan tidak berhasil? Wah, kok kesannya jadi sesempit itu ya?

Trus, bagaimana dalam dunia kecil milik gue dan kedua sahabat gue? Setiap orang punya cara yang berbeda dalam menyikapinya. Setiap orang punya kebebasan dalam memilih sikap atas dilema ini. Karena, setiap hubungan tidak berkembang dan punya latar belakang yang sama. Sifat pasangan kita masing-masing pun berbeda.

Sahabat gue yang di Jakarta ... sementara ini memilih untuk menunggu 2-3 bulan sebelum berani menanyakan kembali mengenai komitmen dan waktu pernikahan mereka. Padahal, sudah melewati prosesi perkenalan dua keluarga besar. Mungkin dia punya alasan kuat untuk berpikir panjang dan mempertimbangkan dulu dengan lebih matang segala konsekuensinya sebelum mengeluarkan pertanyaan seserius itu ke pasangannya yang terkesan punya sifat ... (maaf banget ya bu..) ”agak kaku”.

Sahabat gue yang di Canada ... ”Anything impossible & AJAIB could happen in her life”. Perempuan ini punya semangat juang yang sangat tinggi. Yah, 11-12 sama Panglima Sudirman deh! Bahkan kadang menurut gue sering kali masuk ke kategori ”nekat”. Saat ini sedang diuji masalah mengenai perbedaan prinsip. Gue belum tau, apakah dia akan menerima hal ini sebagai ”final clue for her fight” atau dia akan membuat manuver dan membuktikan sekali lagi bahwa ”anything impossible could happen in her life”!

Gue ... sepertinya bukan termasuk orang yang bisa tahan berlama-lama dalam ketidakjelasan (kecuali untuk 8 tahun ’kebodohan’ di masa lalu ... ^_^V hehehehe). Apalagi kalau sudah menyangkut masalah perasaan. Gue berusaha lebih jujur mengakui bahwa gue adalah day-dreamer. Dan gue juga punya hati yang sangat sensitif untuk dilindungi dari impian-impian yang terlalu tinggi dan tidak pasti (huhuuuyyyyy .......)

Makanya, untuk hal satu ini gue memilih untuk lebih berpihak pada KEJELASAN. Nggak peduli siapa yang mengeluarkan pertanyaan itu terlebih dahulu. This is not a game about whose beat who. This is about living my life and it is more important than that stupid pride-game. Toh, dari awal pun gue nggak pernah memaksa seandainya saja pasangan gue nggak merasa punya kepentingan dan cita-cita yang sama dengan gue. At least, gue jadi tau apa yang perlu gue lakukan selanjutnya setelah pernyataan itu menjadi jelas. Jadi, (amit-amit) seandainya aja hubungan gue nggak berhasil sesuai harapan … nggak perlu gue dengar pernyataan dari pihak laki-laki “Dia duluan kok yang ngajak merit”.


Dan kalaupun ternyata statement itu keluar juga … setidaknya gue tau, siapa yang selama ini menjadi pengecut di antara kita.



* Never be afraid to state our need above uncertainty. Because this is about living your own live and life is too short for stupid game such as “Let them say it first”.


- rendjana -

Sunday, January 15, 2006

loosing my religion

Kembali ke masa waktu gue masih SD, di dalam kelas, pelajaran Pak Agus guru agama gue. Beliau menerangkan pengertian dasar mengenai apa itu agama, kenapa agama ada, dan kenapa rakyat Indonesia harus beragama. Banyak konsep yang masih terlalu rumit buat otak "SD" gue yang masih terbatas banget kapasitas berpikirnya. (sebenernya saat ini kapasitas berpikir gue juga masih segini-gini aja sih ;p hehehehe)

Kata Pak Agus, agama itu diciptakan sebagai "penata hidup". Kalau dilihat dari terminologi kata, "agama" terdiri dari suku kata "a-" (tidak) dan "gama" (kacau). Jadi pengertian umumnya, kira-kira adalah : "agama" berfungsi untuk memberikan guidelines atau panduan bagi manusia dalam menjalani hidup supaya bisa berjalan lebih teratur, damai dan tidak kacau-balau. Agama dibuat untuk mempermudah manusia, memberikan jawaban bijak, serta sebagai pembimbing saat manusia berada dalam persimpangan ataupun kebimbangan.

Tapi, sepertinya apa yang gue lihat akhir-akhir ini kok rada beda ya? Gatau deh, entah ini semacam ujian mental buat manusia atau sebuah pertanda bahwa kiamat memang sudah makin dekat. Kalian liat gak di-infotainment ... gimana para artis-artis dan tokoh masyarakat yang selama ini terlihat tekun dan baik dalam hal agama, ternyata pada akhirnya ketawan juga "belang"nya masing-masing. Belum lagi kalau lihat berita teroris (katanya beragama Islam) yang bisa-bisanya bunuh orang kayak bunuh laler. Wahhh .... Where did the religion go? Kok jadinya malah kayak gitu yah?

Keberadaan dan fungsi agama mulai jadi pertanyaan. Dan lebih parah lagi ketika orang yang mempertanyakan itu mulai tidak percaya akan sumber keyakinannya dan mulai mencari sumber-sumber alternatif lain yang belum terjamin kebenarannya. Banyak sekte-sekte baru yang muncul. Menurut gue malah keyakinan baru itu jadi terlihat makin aneh-aneh. Seolah ada sayembara rahasia yang hanya diketahui oleh para pencipta "agama baru" tersebut. Barang siapa yang berhasil menciptakan "agama paling unik" dan bisa mengumpulkan banyak "penggemar" akan mendapatkan hadiah kecap manis atau sejenisnya kali ya? Ajaib banget gue ngikutin berita tentang sekte "Lia Eden" atau sekte lain (gue lupa namanya, secara banyak juga yang gue baca dan lihat beritanya selama beberapa tahun terakhir) yang bahkan ngajak pengikutnya untuk bunuh diri masal dan melakukan tindakan-tindakan "bodoh" yang ga masuk akal.

Lama-lama gue jadi berpikir. "What's wrong with all religions that we knew all this time?" Or, should I say : "What's wrong with you people?". Sisi positive thinking gue kadang mencoba untuk bisa lebih berempati sebagai sesama manusia. Mungkin mereka mengalami pengalaman hidup yang terlalu buruk. Saat segala upaya dianggap tidak lagi bisa menjawab segala beban yang mereka harus rasakan, maka mereka menjadi frustasi dan memilih untuk mencari jawaban sendiri di luar sana. Mungkin mereka sudah tidak kuat menanggung beban hidup itu dan kemudian jadi 'going insane'

Well, gue memang belum berani bilang bahwa gue umat yang religius dan sudah menjalankan semua perintah agama gue. Dan seperti layaknya orang hidup lain, gue juga sering nemuin masalah, halangan dan beban hidup yang harus diatasi. Tapi ... alhamdulillah gue masih dikasih kekuatan untuk tetap mempertahankan keyakinan gue. Bahwa tuhan gue adalah Allah SWT. Bahwa nabi gue adalah Muhammad SAW. Dan apapun yang terjadi, seberapapun gue telah merasa kotor di hadapan Sang Pencipta, gue nggak pernah punya niat untuk mengganti status tersebut, apalagi "menggadaikan" keyakinan gue untuk sesuatu yang gue belum tau pasti jaminannya.

Dalam hidup yang saat ini sudah tidak bisa dibilang "MUDAH", pasti sudah banyak prinsip yang kita korbankan... atau setidaknya kita "kompromikan". Jujurlah ... one in million ... orang yang bisa tetap benar-benar menjalankan SELURUH prinsip hidupnya sesuai impian. Gue sendiri akan tetap berusaha mempertahankan lebih banyak prinsip-prinsip hidup gue. Dan kalaupun harus ada beberapa dari prinsip-prinsip itu yang harus gue "kompromikan" atau bahkan harus dikorbankan .... hal paling akhir yang akan gue laid-off adalah ..... "My Religion"



PS:
To my beloved best friend .... About your statement last night:

"If I could have all happiness with my man from many other things, why should we bother on one thing that we know will never be compromised (read: your both different-religions thing). What dou you say?"

Ummm..... honey, before you have my approval. I think we need to disscuss it more bout our opinons. Or shouldn't we?


*so I will only say : Please do take care"




- rendjana -

Wednesday, January 11, 2006

second chance

Setiap manusia berhak akan kesempatan kedua. Ketika kesempatan pertama hilang dengan berbagai alasan, kesempatan kedua sering kali menjadi sesuatu yang ditunggu. Untuk memperbaiki apa yang hampir saja rusak, berusaha kembali untuk meraih apa yang hampir hilang dan berbagai alasan lain yang biasanya terkesan sangat optimis dan penuh janji.

Namun kadang kita tidak menyadari, saat kita benar-benar mendapatkan kesempatan kedua yang kita inginkan … semua optimisme dan janji-janji itu malah membuat langkah kita seperti dikalungi oleh berjuta batu. Berat. Lambat. Penat. Beban mental yang kita ciptakan sendiri berbalik menjadi boomerang yang mau tidak mau akan menghambat apa yang sedang kita perjuangkan.

Ada standar baru yang musti dipenuhi, garis toleransi menipis, pengharapan melambung lebih tinggi, belum lagi ketakutan akan mengalami kegagalan seperti sebelumnya yang semoga saja tidak berubah menjadi trauma. Wah, ternyata kesempatan kedua tidak selalu menyenangkan ya.

Mungkin karena itu, banyak orang lebih memilih untuk menghadapi kesempatan pertama secara gila-gilaan dari pada harus bertemu dengan kesempatan kedua. Siap tidak siap, ya dipaksakan siap. Meski faktor ‘gambling’-nya lebih besar (mengingat kita belum tau apa yang akan dihadapi) tapi setidaknya penilaian yang keluar dari proses ini akan lebih murni, karena belum ada pembanding yang bisa saja mempengaruhi ke-objektivitas-an penilaian.

Sebagai seorang AE yang sudah 4 tahun lebih di Advertising Agency dan sudah sering kali ikut pitching, gue tau bagaimana rasanya menang pitching, kalah pitching, dapat kesempatan kedua dalam sebuah pitching, bahkan juga batal menjadi pemenang pitching hanya karena alasan “produk yang mau dikampanyekan batal diproduksi” (Weeekkzzz!!! Kok bisa-bisanya klien itu sudah mengadakan pitching ya??)

Untuk urusan pitching, para bos di kantor lebih suka kalau dapat jadwal presentasi pertama, meskipun harus sudah hadir di kantor klien jam 7 pagi sekalipun. Apalagi kalau kebetulan si Klien punya pola pikir yang rada letterlek (bener gak sih spelling gue ;p) … Maksudnya, saat sudah memutuskan suka dengan “barang jualan” dari satu Agency, dia sudah tidak terlalu tertarik lagi untuk mendengarkan presentasi dari Agency selanjutnya. Wah, kalau situasinya seperti itu, menjadi Agency yang mendapat jadwal presentasi kedua bebannya akan terasa lebih berat. Meski mungkin “barang jualan” kita lebih bagus dari Agency pertama.

Kalau boleh memilih… gue lebih memilih untuk tetap menjalani kesempatan pertama saja. Kalau perlu nggak harus ketemu dengan kesempatan kedua. Soalnya gue termasuk orang yang tidak gampang membuat penilaian, namun juga rada sulit merubah apabila pada akhirnya penilaian itu sudah ditetapkan. Nggak tau kenapa. Mungkin gue termasuk orang yang mudah “kapok” (trauma) … mungkin gue termasuk orang yang pengecut untuk mengambil resiko kedua kali dalam beberapa hal …. Nggak tau juga. Yang pasti, ketika kesempatan kedua itu harus datang gue pasti akan jadi lebih protektif dan berhati-hati selama menjalaninya. Dengan harapan semoga saja kesalahan dan kegagalan yang sudah pernah terjadi tidak perlu terjadi lagi di kesempatan ini.

Trus, kalau (amit-amit) ternyata terjadi lagi bagaimana? Duhh… nggak tau juga nih!! Mungkin gue akan berpikir seperti ini: “I’m more stupid than a donkey” atau “Happiness and me never get along” atau dengan sesuatu yang lebih bijak seperti“This is really not my path and I should try to find another one where I really belong”.

Ribet banget ya hidup jadi orang dewasa. Banyak masalah yang musti dihadapi. Banyak pertimbangan yang musti dipikirin. Padahal sering kali yang kita mau hanya sesuatu yang simple dan (seharusnya) fun. Hhhh….. *silent sigh* ….. untungnya masa kecil gue cukup bahagia. Meskipun nggak semewah anak-anak lain, bagi gue sudah cukup membahagiakan. Jadi, sudah cukup bagi gue menjalani masa-masa dimana kita nggak perlu mikirin ini itu untuk melakukan sesuatu. Kita suka, ya lakuin aja. Masalah resiko atau gimana akibatnya …kok kayaknya waktu itu nggak pernah kepikiran ya? Hehehehhehe ...

Anyway, saat ini gue sedang menjalani kesempatan kedua. Jujur, meski kadang masih dihantui oleh ketakutan yang tercipta pada kesempatan pertama gue tetap fight dan meyakini bahwa kali ini “everything would be better”. Memang nggak segampang optimisme dan janji-janji yang pernah dibuat sih, tapi semoga saja semua akan tetap berjalan lebih baik. Jadi pada akhirnya nanti gue nggak perlu harus berpikir dan berkata : “I am more stupid than a donkey”.




- rendjana -



January 10, 2006
10.33 AM



- rendjana -

Sunday, January 08, 2006

da Blink-blink Gals!

Duduk di bangku warnet yang serba tanggung buat menyanggah punggung gue kayak gini, bikin capek dan ngantuk hasil lembur di rumah hanum semalem jadi berasa tambah berat. Kalo boleh jujur, saat ini yang terbayang di mata dan dalam kepala gue adalah tempat tidur usang di kamar gue yang kecil .. yang sering diacuhkan pemiliknya ... namun selalu menjadi tempat paling nyaman buat memanjakan diri gue dari segala kepenatan. Duh, beneran kangen kamar nih, gue!


Tadi "malam" baru bisa tidur jam 4.30 pagi. Itupun setelah gantian dengan hanum dan ghita ... menyelesaikan tugas presentasi kuliah Etika Periklanan yang masih aja berubah-ubah terus eksekusi kreatifnya. Hhhhh, mereka bener2 semangat deh. Daya juang yang bombastis dan ga mau tanggung-tanggung. Terkesan "rada over" kalo
mengingat ini semua "hanya" untuk tugas kuliah.


Intinya, setelah dapat Advertising Brief dari Pak Dosen tercinta, kita diminta membuat sebuah konsep dan strategi komunikasi untuk produk celana dalam pria merek TARZAN (wwuuuiihh... Aaauuuwooooo banget gak tuh!) Nah, ni celana dalem katanya buat market AB yang nanti iklannya jangan sampe melanggar peraturan EPI (*buat yang belom tau TCTKPI sekarang udah diganti jadi EPI = Etika Periklanan Indonesia).

Kembali bicara tentang tim gue yang 5 orang perempuan "bergairah" itu ... kita sepakat nggak mau bikin ini secara "biasa-biasa" aja. Semua data tentang celana dalem laki-laki dikumpulin, referensi2 celana dalem dari berbagai sumber, browsing lewat internet (kadang jadi ser-seran dikit kalo kebetulan salah klik :p hehehehe) bahkan untuk referensi konsep produk dan packaging hanum tidak segang-segan membajak celana dalem adik lelakinya yang tentu saja langsung protes gila-gilaan karena harta bendanya jadi objek observasi.


Anyway, kita badai-otak sampai akhirnya semua setuju dengan satu konsep sederhana yang siap eksekusi (meminjam istilah dosen copy writing gue, konsep musti KISS = Keep It Simple Stupid. Tapi kita lebih sering membacanya dengan intonasi seperti ini : Keep It Simple, STUPID!! hehehehehehe).


Setelah konsep tersedia, upaya ekspansi dan invansi ke segala arah supaya ide itu bisa tereksekusi segera dilakukan. Mas Digdo (* pesan dari Hanum selalu : "Inget yah ... jangan pake "L" nanti artinya jadi lain lagi!!") sang Graphic Designer biro iklan terkenal mulai dirayu Nana (si pacar) untuk terima brief dari kita-kita. Menghadapi 5 orang perempuan, khususnya ada Nana (si Pacar) di hadapannya langsung (duh, andai kalian tau apa yang gue maksud) ... Mas Digdo tentu saja hanya bisa pasrah dan berusaha tetap tersenyum saat terima to do list dari kita sbb :

- Create Logo / Brand Icon
- Create product packaging 3 variant yang masing-masing punya 2 ukuran (6 deh tuh!)

- Create Teaser 3 versi (masing-masing eksekusi untuk TVC dan Print Ad)
- Create Launching Ad 3 versi (masing-masing eksekusi untuk TVC dan Print Ad, juga!)
- Create Design Billboard dan signboard


WELEH!!!
Masih untung si Mas Digdo nggak langsung nge-jeblak di pangkuan Nana saat itu juga (huuuwww, maunya sih gitu tuhhh ;p)

Setelah bolak-balik bongkar pasang layout dan desain logo (eh, 3 versi layout yang gue bikin sendiri buat print ad ternyata “laku” lho ... heheheehe <<< AE yang kepengen juga bisa nge-layout) kayaknya baru kepikiran apa slese ya bikin materi segitu banyak? Selain itu ga tega juga terlalu membebani Mas Digdo secara ini hanya PT “proyek tengkiu”.

Pikir-pikir solusi lain .... dan akhirnya ..... (pasti lo pada nebak gue take over sendiri kerjaan LO ya? Hehehehe SALAH!!) Gue “memindahkan” sebagian pekerjaan bikin storyboard ke Gukguk “my lovely artist” yang Alhamdulillah mau berbaik hati membantu bikin storyboard dengan hand drawing nya.

Well, finally semua materi kelar. Kita presentasi dengan pakai baju seragam : Kaos Item dan Celana Jeans. Malah Hanum sempet2nya bikin bagde logo ICON yang menjadi “barang jualan” kita hari ini. (sebenernya masih ada cerita seru lagi mengenai pemesanan bagde yang diserahkan ke nyokapnya hanum ..wah pokoknya incredible story deh :'D)

Kita semua pake seragam plus badge saat di kelas sampai selesai presentasi ... sambutanya HEBOH BANGET!! Presentasi SUKSESS!! Preparation kita gak sia-sia!! Dan imbalannya adalah kepuasan dan sisa kantuk yang perlu segera dilunasi .... Zzz zzz zzz


(Hhh..... andai saja mata kuliah creative planning jam ini bisa di-skip dengan titip absen ... hhhhhhhhhhhh *pasrah*)


PS:
To all my fellow da Blink-blink gals ... thanx for all support & spirits (Gue mo pitching beneran aja ga se-heboh ini)

We are really fun, amazing and great Team!! Atta Girls!!



- rendjana -