DUNIA RENDJANA

"...and if you said that happiness is real. Please bring it to me along with butterfly, rainbow and the blue blue sky ..."

Saturday, May 27, 2006

Airmata untuk jogja



tanpa kata
beribu rasa

tanpa kata
berjuta doa

tanpa kata
hanya tetes air mata yang mencuri selah di antara pipi dan tulang hidung

tanpa kata
dan tanpa kata
menunggu kabar pasti dari jogja


pagi ini gempa telah meratatanahkan kampung halaman moyangku

malam ini sepuh dan banyak sodara tidur di bawah gemintang

diantara puing dan mungkin juga abu


esok hari semoga semua bisa lebih baik
dan simbah-simbahku bisa mendapat pertolongan

setidaknya tidak sakit ... dan punya sesuatu untuk dimakan


amien

(tertunduk dalam dalam, air mata kembali menggenang)
(masih coba mencari arti 'becandaan' dari sang alam. Yang dikejar ke gunung, malah lari ke pantai)

- rendjana -

Tuesday, May 16, 2006

pagi ini merapi muntah lagi



pagi ini merapi muntah lagi
aku menggigil, dingin di sekujur tulang
awan panas menderu meluncuri bukit
meranggas pohon dan mengumbar abu

hari ini
merapi kembali membangkitkan yang mati
untuk dapat melihat lebih dalam
untuk dapat lebih mengerti
untuk dapat merasai apa yang tidak terlihat
dan menikmati apa yang tidak dapat dimiliki

merapi hari ini muntah sudah lebih dari dua kali
dan sebait hati di ujung sana masih saja merepih sepi
sabar,
bukan masa namanya, kalau tidak kunjung tiba

bila sampai esok merapi masih muntah dan muntah lagi
jangan gusar dan menyembilu
serahkan pada hujan untuk menyirami
sampai lahar hati kembali membeku


to those who wait, to those who feel "rendjana" right now


- rendjana -

Sunday, May 07, 2006

Secuil ilmu dalam SMS "asu"

Kata seorang teman:
"Makin rendah pendidikan, makin rendah pikiran"
"Makin rendah iman, makin rendah akhlak"


Bisa jadi dua kalimat itu benar... hanya jika dibaca satu per satu.
Tapi menurut gue, unsur dari dua kalimat itu nggak bisa di-cross atau dipasangsilangkan

Misalnya begini:
"Makin rendah pendidikan, makin rendah akhlak"
[Nggak setuju!]


Gue lebih prefer untuk mengganti kata "pendidikan" dengan kata "ilmu". Rasanya lebih relevan. Karena "pendidikan" kayaknya terlalu sering kali dikaitkan dengan "ijasah" dan "makan sekolah dimana". Padahal kalau kita mau lebih peka dan berbesar hati, justru yang kita harus terus cari adalah "ilmu" ---- yang gue percaya ada bertebaran dimana-mana. Ilmu bisa ada di balik makian-makian orang yang lagi emosi. Ilmu ada saat kita kebetulan beruntung bisa terlibat dalam sebuah diskusi dengan orang yang berintelektual tinggi. Atau, ilmu juga bisa tersebar di pasar becek, lantai disco, maupun hening alam yang dipandang dari atas puncak pegunungan.
Masalahnya, tinggal bagaimana kita melihat semuanya. Apakah kejadian dan peristiwa yang berlalu-lalang di depan mata hanya terlihat sebagai tontonan murahan semata. Ataukah kita malah terlalu memelintirnya menjadi isu-isu politik maupun kesempatan untuk kepentingan pribadi. Atau cukup memahaminya sebagai ilmu dari sang Kuasa yang perlu dikaji dan dikaji lagi agar kita bisa belajar menjadi manusia yang lebih bijak.

Kata seorang teman:
"Setiap orang punya hak untuk men-judge akhlak maupun tingkah laku manusia lain"
[Nggak setuju!!]


Gue lebih berpendapat bahwa hanya Allah yang berhak untuk men-judge [menghakimi] akhlak seorang manusia. Sedangkan manusia hanya diperkenankan membuat penilaian atas apa yang dilihat dan dialaminya.
Karena penilaian itu adalah bagian dari proses pembelajaran manusia tentang hidup. Langkah kecil manusia untuk mendapatkan secuil ilmu dari Penciptanya. Bagian dari impian manusia yang ingin menjadi lebih bijak.
Bagaimana akhir dari penilaian itu, apakah akan membawa manfaat atau mudharat bagi kita, tergantung seberapa jauh ilmu yang kita dapat dari proses panjang yang harus kita lalui.

TETAP, gue bisa saja membuat penilaian terhadap orang lain atau siapapun .... dan TETAP, gue nggak pernah merasa punya hak untuk menghakimi apa yang diperbuat orang lain terhadap pilihan jalan dan cara hidupnya. Karena, hanya dia dan Allah yang paling tau... untuk apa dia lakukan itu, kenapa dia lakukan itu dan konsekuensi apa yang dia akan dapatkan nantinya.

Selanjutnya:
“Makin rendah iman, makin rendah pikiran”
[Mungkin setuju...]

Tergantung bagaimana kita melihatnya.
Gue termasuk orang yang selalu berusaha untuk berpikir positif. Tidak terlalu bangga, sebenarnya. Karena bisa jadi kebiasaan gue ini membuat gue jadi terkesan naif, atau mungkin juga gue hanya merasa perlu berhati-hati sebelum membuat penilaian terhadap suatu hal.

Rendahnya iman seseorang tidak bisa terus dikaitkan dengan tingkat pendidikan (baca: seberapa banyak ilmu) dia mengenai agama. Dan tidak juga bahwa orang yang masih rendah ilmu agamanya memiliki pikiran yang rendah juga. Daripada kita men-judge rendahnya iman seseorang. Mendingan kita bahas dulu faktor yang membuat kenapa hal ini terjadi. Kalau jawabanya ternyata : dia tau banyak tentang ilmu agama ... tapi tetap aja imannya rendah, akhlaknya ’cacat’ dan masih saja menyandingkan vodka dengan kitab suci (biar balance, katanya). Gue setuju, itu karena dia tidak berpikir dan ilmunya tidak dipakai. Well, end of discussion! Case closed! Period!

Yang perlu dipahami adalah mereka yang imannya masih belum maksimal, karena ilmunya masih sedikit, padahal dia termasuk orang yang rajin berpikir, mau belajar. Meskipun sering kali dia tidak tau dimana dan bagaimana harus memulai. Nah! Kenapa bukan itu aja yang dibahas dan diurusin? Katanya Islam itu agama damai, katanya Islam itu penuh rasa persaudaraan. Lalu kenapa masih aja sering gue temui... orang Islam yang berilmu tinggi, intelek, tapi tidak bisa menjaga akhlak sesuai yang dibayangkan dan diharapkan?

Tanpa mengatasnamakan ilmu agama yang masih rendah, atau apapun .... Sekali lagi, gue masih saja nggak merasa punya hak untuk men-judge.
Cuma bisa bernyanyi : ”Kita juga manusia....”
[sayang, gak bisa teriak parau kayak Candil :p)

PS:
Alhamdulillah. Diantara cambukan kapitalisme, gue masih bersyukur bisa dapet ”ilmu” yang terselip diantara sms penuh ”makian” seorang teman. (Anyway... materi diskusimu ”asu” tenan dhab!)



- rendjana -