DUNIA RENDJANA

"...and if you said that happiness is real. Please bring it to me along with butterfly, rainbow and the blue blue sky ..."

Monday, April 20, 2015

Susahnya Menata Hati
























Ternyata semakin bertambah usia semakin banyak hal-hal kecil yang selama ini seolah nggak terlihat, sekarang menjadi serba penting untuk dipikirin. Mulai dari urusan klien, team di kantor, orang rumah, bahkan remeh temeh lain yang harusnya nggak perlu dipikirin pake banget. 

Dulu kenapa kita bisa ya lebih cuek menghadapi masalah dan menjalani hidup? Mungkin saat itu kepala kita banyak terisi oleh aliran darah muda yang lebih mementingkan hasil akhir dibandingkan proses. Fokus kita saat itu adalah gimana caranya supaya apa yang gue mau bisa kejadian. Rambu-rambu kadang dilanggar. Yang penting tujuan tercapai kalau bisa secepat mungkin. Nggak peduli orang ngomong apa. Nggak peduli bahaya. Nggak peduli lah ama hal-hal yang masih bisa dipikirin nanti-nanti. Pokoknya, selama prinsip nggak ganggu orang lain tidak dilanggar, seruduk aja terus kayak badak bercula satu (errr, kadang dilanggar juga sih)

Makin ke sini, semua kanal rasional terbuka satu per satu. Setiap langkah dipikirin efeknya karena kali ini tidak lagi hanya tentang diri sendiri. Seperti mulai ada tuntutan rasa tanggung jawab untuk memikirkan efeknya ke banyak hal lain... ya kerjaan, keluarga, orang sekitar bahkan masa depan nantinya. Tiba-tiba langkah yang dulu terasa begitu ringan kini mulai terasa berat dan terbebani. Pundak sering kaku. Kepala sering migren. Insomnia menyerang. Dan helaan nafas panjang lebih sering terdengar diujung langutan pikiran yang bergerak diawang-awang. 

Dalam masa seperti ini, pingin deh bisa merasakan kosong kembali. Seperti saat semuanya terasa lebih sederhana dan nggak dibebani apa-apa. Saat adrenalin meraja dan segala resiko siap dihempas dengan mudahnya. 

Inget salah satu pesan dari seorang teman dari masa lalu "Kalau mau jalan hidup kita bisa terasa lebih ringan, setiap masalah besar itu harusnya dibuat kecil. Masalah kecil ditiadakan." Ya, harusnya itu yang dilakukan saat ini. Meski sepertinya nggak semudah kalimat tadi. Tapi sesuatu harus dimulai dari suatu titik. 

Sesuatu yang bisa membuat mimpi-mimpi ini terus hidup. Sesuatu yang akan membawa langkah ini maju satu-satu ke arah yang kita inginkan.  

Bagaimana kalau malam ini kita mulai dengan tarikan nafas panjang. Masukkan ke dalam dada. Kemudian dorong ke rongga perut. Tahan sebentar di situ. Keluarkan pelan-pelan bersama hembusan lembut diantara mulutmu. Lakukan dua atau tiga kali. Dengan mata sambil terpejam itu pasti. 

Sambil menghitung masalahmu dalam hati. Membuangnya satu-satu dengan pikiranmu. Dan menggantikannya dengan kupu-kupu mengisi rongga perutmu. 



Whooooosssaaaaaaa.......


Saturday, April 11, 2015

Kelas Pagi dari Ibu




















Ibu selalu punya kejutan yang terkadang bikin gue tertegun sekaligus bangga. 

Meski nggak sempat merasakan bisa punya ijazah SMA karena Simbah nggak punya cukup uang untuk membiayai, semangat belajar Ibu sampai kini nggak pernah mati. 

Sejak pindah ke Joglo (sekitar 35th yg lalu) Ibu aktif di kegiatan sosial, banyak ikut pelatihan, kursus dan seminar. Sampai jadi kader andalan ibu petinggi kelurahan, camat dan walikota. Bahkan ibu sempat dapat lencana emas penghargaan dari Ibu Sutiyoso, ibu Gubernur DKI kala itu. 

Pagi ini telpon gue berbunyi. Masih ngantuk gue angkat awalnya dengan setengah hati. Dan suara Ibu di seberang sana sudah semangat bercerita kalau Ibu lagi ada project dengan salah satu universitas dekat rumah untuk sebuah program kerja. Sampai pada satu bagian ibu dengan susah payah menjelaskan satu hal yg dia nggak paham sepenuhnya. 

Setelah gue tanya dengan seksama, ternyata pihak universitas nanya alamat EMAIL ibu. Karena semua data dan proposal program kerja akan dikirim lewat email saja. 😂

Oke bu. Saatnya anakmu membalas jasamu yang waktu itu susah payah mengajarkanku cara mengikat tali sepatu. Nanti aku bikinkan alamat email ya bu. Cara pakainya. Dan juga gimana cara lihatnya dari handphone juga. Pe er berat ini pasti. Secara Ibu nggak familiar dengan teknologi semacam ini. Tapi anakmu pasti akan dengan senang hati ajarin Ibu. Jangan khawatir. 

Love you Ibu. 
Semangatmu untuk pingin tau dan terus belajar dalam segala keterbatasan yang ada, harusnya bisa jadi contoh buat generasi sekarang yang suka manja, banyak alasan dan sering menyalahkan keterbatasan. 

Terima kasih Ibu, untuk pelajarannya pagi ini. 😘

Wednesday, April 08, 2015

my surreal























Shout a lot
Cry a lot
Silence a lot
Desperation
Anger

How to handle all the emotions inside
when  life toasted my dreams
and world seems to stop turning

How could people have two ears
when they don't listening
why we keep the two eyes
when all we see only bad things
why there should be days and nights
if dreaming is forbidden alright
and strolling down under the sun means nothing at last

where could I hide and be home
in this surreal place
i need to settle down
buried my legs inside the sand
watching the waves crawling back to sea


- rendjana -

Sunday, April 05, 2015

Dua Lelaki dan Bayangan Tanpa Raga




















Dua lelaki dan satu bayang-bayang tanpa raga
Mengikuti kemana pun aku melangkah
Mengisi hidup dan menempati kamar hatinya sendiri-sendiri

Kata ibu
Perempuan itu harus kuat dan berani menghadapi permasalahan hidup
Karena pasrah dan berlari harusnya jadi pilihan terakhir saat semua upaya sudah kehilangan makna

Aku coba penuhi nasihatmu, Ibu
Akan ku selesaikan semua satu per satu
Karena umur tidak akan pernah menunggu

Saturday, April 04, 2015

Rasaku pada Semesta

















Aku marah pada sesuatu tanpa wujud
pada wujud tanpa wajah
pada wajah tanpa rasa

Aku ingin sekali memaki langit
Menghentak bumi
Menghempas angin
dalam kuningnya lembayung sore selepas hujan

Aku mencarimu dalam larik pelangi
Yang dilukis oleh butiran hujan
Memayungi cakrawala dengan anggunnya

Aku benci pada lautan
Yang mengombang-ambingkan butir kelapa dengan ombaknya
Kemudian dihempas keras pada karang
Untuk kemudian ditenggelamkan

Aku berpesan pada senja
Jika waktunya telah tiba
Kuminta ia membawaku pergi ke negerinya
Untuk mencari segala yang mungkin tidak akan pernah aku temukan di tempat ini

Friday, April 03, 2015

Once a Fighter, always be a Fighter

























And then
We start to ingnore the other
Start yelling each other
Start to remain in silence

And then
We forgot how this all started
We cannot recall the feelings used to be uplifted
We lost in our own interpretation  
Drawn in our own thought and perception
Conversation is not needed
Words are died. 
All denied. 

How can we see the dream that we promise to make up together
How can we build the future we are looking for to get there
if only one foot is willing to make a step
How this could be so cold as care and promises to make me happy is only a beautiful rainbow that will soon disappear as the sky saying goodbye to raindrops. 

This little heart of mine seems not deserve to be placed on special place in someone else's heart. 

At the end of the day
I just realize that every people has their own duty and path of life in this world 
Some people are blessing with an easy live and need to do less effort to have their happiness
While some others will always be a fighter, survivor who shoul have never ending battle just to make a such of a proper living. 

I always think God send me to this earth to play the role as a fighter, a survivor 
For there I should count on my own hands to build my own future and make my own happiness
Forget it to be a princess who is always spoiled by other people treats. 

I should be strong.
To wherever this path of life will bring me
I shall not be to put myself on other prople's hand. 

I shall create my own future and story. 



Thursday, April 02, 2015

All I want to see

Menemukan jejak masa dari beberapa tahun yang lalu. 

Instrospeksi buat hari ini seolah menegaskan bahwa cita-cita ini belum juga bisa terwujud sesuai keinginan. 
😟


Wednesday, April 01, 2015

Appreciation




















Sometimes
All we need just 
a simple gesture
a simple "thank you"
a humble care
who ask "how are you doing?"

A simple word
A gentle touch
That could wipe away
All sweat and tears
For you cannot be a strong person all the time

We need to rest
sometimes