DUNIA RENDJANA

"...and if you said that happiness is real. Please bring it to me along with butterfly, rainbow and the blue blue sky ..."

Tuesday, June 30, 2015

F*CK OFF

 























Diam emang kayaknya pilihan terbaik
Saat satu kata berbalas lima puluh
Saat satu niat baik berbalas misuh-misuh

Nggak tau mana yang salah
Apa yang keliru
Terasa sangat mudah
Orang menghardik
Terasa sangat ringan
Urat ditarik

Mungkin memang selama ini ada yang salah
Pasti ada hal yang keliru
Diam adalah lebih baik
Istighfar sangatlah perlu

For those who give me
A hard time
And a loud voice
F*uck off
I don't care
You don't exist
Because you thought me so

Monday, June 15, 2015

Congkak

Nggak pernah mengerti
Kenapa manusia terlalu gampang merendahkan yang lainnya
Semudah mereka buta dalam membela dan tuli untuk mendengar

Kesombongan itu semacam musuh dalam selimut
Menciptakan kebencian tersembunyi
Sebagai duri pada batang bunga mawar

Manusia pun sangat mudah melupakan kebaikan
Menafikan keikhlasan
Menabur benci
Menautkan caci dan maki

Sudah, sudah lah
Berjalan saja pada jalurmu sendiri
Nggak perlu merasa peduli
Karena apapun yang kau bela itu
Nggak akan menjauhkanmu dari mati





- rendjana -

Friday, June 05, 2015

University of Life


















Kali ini, sekali lagi hidup mengajarkan tentang rasa, asa dan memaafkan.
Nggak ada yang pernah tau kapan semua yang kita pegang saat ini akan terlepas dan menghilang. Kapan pertemuan ini akan berganti jadi perpisahan. Kapan asa ini akan melebur dalam kelam. Dan apakah rasa ini akan terus ada dan bertahan. 

Nggak ada dari kita yang bisa menjamin. Bahwa hari esok akan muncul seperti biasa membawa sinar matahari. Bahwa tarikan nafas ini akan mengembang kembali dan tidak terhembus untuk terakhir kali. Bahwa orang-orang yang berkeliaran di sekitar kita akan tetap tinggal dan peduli. 

Hidup ini katanya hanya tempat mampir untuk kita sekedar minum. Maka usahakanlah untuk minum sesuatu yang baik. Dari tempat yang baik. Bersama orang-orang yang baik. Karena pada akhirnya kita berharap bisa melanjutkan perjalanan di waktu yang baik, dengan cara yang baik dan membawa segala kebaikan dari perjalanan kita sebelumnya. Karena pada ujungnya kita berharap untuk tiba di tempat terbaik dan terindah yang bisa dinikmati oleh manusia.  

Hari ini hidup mengingatkanku sekali lagi. Bahwa diam tidak selalu lebih baik. Namun setidaknya dengan mengurangi kata-kata yang keluar dari mulut, berarti makin sedikit kemungkinan jiwa ini menyakiti orang lain. 

Hari ini hidup memperlihatkan kepadaku. Sudah saatnya belajar kembali bagaimana menuturkan kata. Menjawab tanya. Menerjemahkan rasa. Dan memperlihatkan emosi. Menjadi bijak tanpa harus terinjak. 

Hari ini hidup membawa aku pada pemahaman. Bahwa tidak semua tanya harus memiliki jawaban. Tidak semua rasa harus bersambut. Dan tidak semua orang peduli akan cerita dan perjalanan hidup kita. Meski kadang mereka bertanya, belum tentu artinya mereka bersedia untuk meminjamkan bahagianya. 

Hidup itu penuh gelombang. Belajarlah untuk seimbang. Nanti kamu akan bisa menikmati berselancar menuju tepi. 




Wednesday, June 03, 2015

Buah quldi
























Banyak orang yang merasa punya kemampuan menilai orang lain
Tapi, sebenarnya gak semua orang punya kemampuan untuk menghargai apa yang orang lain kerjakan
Kesombongan dan egosentris yang membutakan. Belum lagi kalau bicara tentang gengsi. Kayaknya akan makin sulit lagi buat dimengerti. 

Manusia (harusnya bisa) hidup dengan cara sederhana. Seperti saat kita kecil dulu. Nggak pernah ada pikiran buruk ke orang lain. Nggak pernah mikir negatif pada hasil. Dan selalu haus untuk tau banyak hal. 

Namun setelah semuanya diketahui dan terbuka, kenapa kesenangan itu satu per satu jadi tiada? Mungkin ini yang dalam Islam disebut buah Quldi. Saat semua terungkap. Saat taboo lahir. Saat segala pembatasan dibutuhkan untuk mengatur dan menjaga agar pengetahuan yang kita miliki tidak berbalik memusnahkan kita. 

Seperti laron yang selalu tertarik akan cahaya lampu, manusia pun mudah silau dengan kebendaan dan kesementaraan. Lalu kita lupa tujuan awal. Karena terdistraksi oleh apa apa yang sebenarnya nggak terlalu, bahkan nggak kita butuhkan. 

Jadi kita mau jadi apa?
Jadi apa?
Mau gimana?